KOMPAS.com - Mantan CEO Nokia, Stephen Elop adalah
salah satu kandidat kuat yang bakal menggantikan Steve Ballmer sebagai
CEO di Microsoft. Menurut sejumlah sumber yang dekat dengan urusan ini,
jika Elop memimpin Microsoft, ia akan fokus pada bisnis perangkat lunak
dan tak segan menjual atau menutup bisnis yang tidak mengarah pada fokus
utama.
Elop bakal memperluas bisnis Microsoft Office. Perangkat
lunak perkantoran yang selama ini dioptimalkan untuk sistem operasi
Windows, Windows RT, dan Windows Phone, juga akan dioptimalkan untuk
ponsel dan tablet berbasis Apple iOS dan Google Android.
Elop
punya hubungan erat dengan bisnis perangkat lunak Office. Sebelum
menjabat sebagai CEO Nokia pada 2010, Elop adalah kepala divisi Office
di Microsoft. Ia turut mengawasi pengembangan Office 365 dan layanan
Office berbasis web.
Bloomberg melaporkan, Elop
berasumsi bahwa Microsoft bisa menciptakan nilai lebih dengan
memaksimalkan penjualan Office, ketimbang harus menopang pendapatan
perusahaan dari penjualan perangkat berbasis Windows. Terlebih, lembaga
riset Gartner memprediksi bahwa pengiriman komputer pribadi akan turun
sebanyak 11 persen pada tahun ini.
Namun, rencana Elop mungkin
bertentangan dengan upaya Microsoft dalam memperluas unit bisnis.
Perusahaan asal Redmond, Washington, AS ini, juga mencari peluang bisnis
baru di bidang layanan dan perangkat keras.
Xbox dan Bing terancam
Sumber Bloomberg
juga mengatakan, Elop siap menjual atau menutup bisnis yang tidak
sejalan dengan fokus perusahaan. Dia akan mempertimbangkan mengakhiri
upaya mahal Bing yang berusaha mengalahkan Google dalam industri mesin
pencari di internet.
Elop juga mempertimbangkan menjual bisnis konsol game Xbox, jika unit bisnis ini dirasa tak sejalan dengan fokus perusahaan.
Analis
Rick Sherlund dari Nomura Holdings, berpendapat, bisnis Microsoft yang
terlalu banyak tidak menambah nilai yang jelas untuk perusahaan.
"Microsoft sedang mencoba untuk melakukan terlalu banyak hal, dan
aset-aset ini tidak menambahkan nilai yang jelas bagi bisnis secara
keseluruhan," kata Sherlund seperti dikutip dari Bloomberg.
Saat
menjabat sebagai CEO Nokia, Elop membunuh sistem operasi Symbian pada
2011 dan menghentikan pengembangan MeeGo karena dianggap tak sejalan
dengan fokus perusahaan. Ia juga memangkas 40 ribu karyawan dan
mengurangi biaya operasional sebesar 50 persen.
Selain Elop,
kandidat kuat CEO Microsoft dari luar perusahaan mengarah kepada Alan
Mulally yang saat ini adalah CEO Ford Motor. Sedangkan kandidat kuat
dari dalam perusahaan adalah kepala strategi Tony Bates, kepala
perangkat lunak Satya Nadella, dan chief operating office Kevin Turner.
SUMBER : kompas.com
Senin, 11 November 2013
Minggu, 10 November 2013
Menangkap Peluang Bisnis Sepatu Lokal
Di tengah bangganya para pencinta sepatu impor branded yang harganya mencapai jutaan rupiah, kini mulai banyak produsen sepatu lokal yang membuat sepatu dengan desainnya tak kalah hebat dari sepatu keluaran Eropa. Sontak, itu membuat para pecinta sepatu branded tadi berpaling karena harga jauh lebih murah.
NERACA
Sepatu kini sudah menjadi produk fesyen guna menunjang penampilan seseorang. Apalagi, sepatu branded asal asal Eropa, dengan mengenakannya juga membuat status seseorang mudah dikenali. Ya, sepatu macam Bally, Clarks, Christian Dior, Hermes, Gucci, Kickers, LV dan sebagainya, pada kenyataannya mampu membedakan status seseorang.
Tetapi kini, pergeseran tengah terjadi, di tengah kebanggaan para pencinta sepatu branded impor yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah, kini telah banyak produsen sepatu lokal berlomba-lomba membuat sepatu yang desainnya tak kalah dari sepatu-sepatu impor. Dengan kata lain, kualitas mampu bersaing tetapi harga jualnya lebih murah.
Bahkan kabarnya, akibat pengembangan model serta inovasi yang telah dilakukan para produsen lokal, sepatu-sepatu mereka tak hanya diminati konsumen lokal saja, tetapi juga konsumen luar negeri. Karenanya jangan heran kalau kini tengah banyak pengusaha yang membuka usaha sepatu lokal.
“Permintaan sepatu lokal saat ini begitu tinggi, karena model dan kualitasnya tak kalah hebat dengan sepatu impor. kalau dulu kan sepatu loal tak jauh-jauh dengan model 'Cibaduyutan', tetapi kini tak lagi begitu, urusan model dan kualitas mampu bersainglah,” jelas Yoyoh, salah satu pemilik gerai sepatu di bilangan Ciputat.
Lalu seperti apa sebenarnya potensi bisnis sepatu lokal yang kini menjadi alternatif pilihan konsumen terutama yang berasal dari kalangan menengah atas? Ya, soal potensi, bisnis ini memang sangat menjanjikan.
Keuntungan Yoyoh sebagi pemilik gerai saja sudah seperti itu, apalagi keuntungan para produsen sepatu itu sendiri. Tentu saja, mereka mendapatkan lebih banyak lagi keuntungan. Maklum saja, keberadaan sepatu kan tidak lepas dari kebutuhan setiap orang untuk menunjang aktivitas mereka sehari-hari.
Strategi Pasar
Kalau ingin membuka usaha ini, tidak melulu harus bermodalkan besar. Karena segalanya bisa dimulai dari yang kecil-kecil. Nah dengan modal sedikit, Anda bisa membuat beberapa pasang sepatu untuk dipasarkan. Tetapi soal pengetahuan mengenai sepatu harus Anda miliki. Karena bagaimanapun juga Anda tidak akan bisa membuat sepatu berkualitas jika pengetahuan Anda nol.
Jika Anda miskin pengetahuan dan ingin berbisnis sepatu. Maka harus ada orang yang berpengalaman dan memiliki kemampuan membuat sepatu berkualitas. Sehingga keinginan konsumen dari sebuah sepatu dapat dimiliki.
Untuk strategi memasarkannya, juga tidak sulit. Karena dalam memasarkan sepatu berkualitas ini, bisa dilakukan dengan menyewa outlet (tentunya di daerah strategis), bisa juga dengan mengikuti pameran nasional maupun internasional, tititp jual di butik, dan promosi lewat jejaring sosial. Tetapi sebelum itu, sebaiknya pelaku usaha juga melakukan riset pasar sebelum membuat desain sehingga benar-benar mengetahui desain yang disukai konsumen dan menekan risiko tidak laku.
Sasarlah target pasar sepatu lokal ini sebaiknya menyasar kelas menengah, alasannya sepatu yang Anda buat bisa menjadi pilihan dengan menawarkan kenyamanan dan kualitas serta desain tak kalah dengan sepatu branded.
Lain halnya untuk kelas menengah ke bawah, harga sepatu yang murah masih menjadi daya tarik utama bagi mereka walaupun kualitas serta daya tahan sepatu tidaklah baik. Karena yang mereka cari adalah sepatu murah. “Kan yang dicari orang dari sepatu ya itu, nyaman berkualitas serta modelnya baik,” sebut Fitrah penggemar sepatu lokal berkualitas di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sumber : http://www.neraca.co.id/harian/article/34823/Menangkap.Peluang.Bisnis.Sepatu.Lokal
NERACA
Sepatu kini sudah menjadi produk fesyen guna menunjang penampilan seseorang. Apalagi, sepatu branded asal asal Eropa, dengan mengenakannya juga membuat status seseorang mudah dikenali. Ya, sepatu macam Bally, Clarks, Christian Dior, Hermes, Gucci, Kickers, LV dan sebagainya, pada kenyataannya mampu membedakan status seseorang.
Tetapi kini, pergeseran tengah terjadi, di tengah kebanggaan para pencinta sepatu branded impor yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah, kini telah banyak produsen sepatu lokal berlomba-lomba membuat sepatu yang desainnya tak kalah dari sepatu-sepatu impor. Dengan kata lain, kualitas mampu bersaing tetapi harga jualnya lebih murah.
Bahkan kabarnya, akibat pengembangan model serta inovasi yang telah dilakukan para produsen lokal, sepatu-sepatu mereka tak hanya diminati konsumen lokal saja, tetapi juga konsumen luar negeri. Karenanya jangan heran kalau kini tengah banyak pengusaha yang membuka usaha sepatu lokal.
“Permintaan sepatu lokal saat ini begitu tinggi, karena model dan kualitasnya tak kalah hebat dengan sepatu impor. kalau dulu kan sepatu loal tak jauh-jauh dengan model 'Cibaduyutan', tetapi kini tak lagi begitu, urusan model dan kualitas mampu bersainglah,” jelas Yoyoh, salah satu pemilik gerai sepatu di bilangan Ciputat.
Lalu seperti apa sebenarnya potensi bisnis sepatu lokal yang kini menjadi alternatif pilihan konsumen terutama yang berasal dari kalangan menengah atas? Ya, soal potensi, bisnis ini memang sangat menjanjikan.
Keuntungan Yoyoh sebagi pemilik gerai saja sudah seperti itu, apalagi keuntungan para produsen sepatu itu sendiri. Tentu saja, mereka mendapatkan lebih banyak lagi keuntungan. Maklum saja, keberadaan sepatu kan tidak lepas dari kebutuhan setiap orang untuk menunjang aktivitas mereka sehari-hari.
Strategi Pasar
Kalau ingin membuka usaha ini, tidak melulu harus bermodalkan besar. Karena segalanya bisa dimulai dari yang kecil-kecil. Nah dengan modal sedikit, Anda bisa membuat beberapa pasang sepatu untuk dipasarkan. Tetapi soal pengetahuan mengenai sepatu harus Anda miliki. Karena bagaimanapun juga Anda tidak akan bisa membuat sepatu berkualitas jika pengetahuan Anda nol.
Jika Anda miskin pengetahuan dan ingin berbisnis sepatu. Maka harus ada orang yang berpengalaman dan memiliki kemampuan membuat sepatu berkualitas. Sehingga keinginan konsumen dari sebuah sepatu dapat dimiliki.
Untuk strategi memasarkannya, juga tidak sulit. Karena dalam memasarkan sepatu berkualitas ini, bisa dilakukan dengan menyewa outlet (tentunya di daerah strategis), bisa juga dengan mengikuti pameran nasional maupun internasional, tititp jual di butik, dan promosi lewat jejaring sosial. Tetapi sebelum itu, sebaiknya pelaku usaha juga melakukan riset pasar sebelum membuat desain sehingga benar-benar mengetahui desain yang disukai konsumen dan menekan risiko tidak laku.
Sasarlah target pasar sepatu lokal ini sebaiknya menyasar kelas menengah, alasannya sepatu yang Anda buat bisa menjadi pilihan dengan menawarkan kenyamanan dan kualitas serta desain tak kalah dengan sepatu branded.
Lain halnya untuk kelas menengah ke bawah, harga sepatu yang murah masih menjadi daya tarik utama bagi mereka walaupun kualitas serta daya tahan sepatu tidaklah baik. Karena yang mereka cari adalah sepatu murah. “Kan yang dicari orang dari sepatu ya itu, nyaman berkualitas serta modelnya baik,” sebut Fitrah penggemar sepatu lokal berkualitas di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sumber : http://www.neraca.co.id/harian/article/34823/Menangkap.Peluang.Bisnis.Sepatu.Lokal
Sabtu, 09 November 2013
Berapa Usia Ideal untuk Mulai Berbisnis?
Liputan6.com, Los Angeles : Bagi Anda yang berniat
mendirikan bisnis, ternyata bukan hanya modal dan strategi yang perlu
perlu dipikirkan. Ternyata, usia juga merupakan salah satu faktor
penting yang perlu dipertimbangkan. Faktanya, sebagian pengusaha besar
mengungkapkan usia 25 bukan waktu yang tepat untuk mulai berbisnis.
Dalam buku berjudul `Breakthrough Entrepreneurship: The Proven Framework for Building Brilliant New Ventures` karya pengusaha besar Jon Burgstone dan Bill Murphy, orang-orang yang berusia 30 tahun ke atas memiliki lebih banyak pengalaman dan matang dalam berbisnis.
Sementara melansir lamar Inc.com, Kamis (6/11/2013), banyak pengusaha sukses memulai bisnisnya saat berusia di atas 25 tahun. Terbukti, jumlah pengusaha sukses yang membangun bisnis di bidang teknologi rata-rata berusia 35-39 tahun. Jumlahnya dua kali lipat dari orang yang berusia di atas 50 tahun dan lebih muda dari 25 tahun.
Artinya, para pengusaha berusia 24-35 tahun masih dianggap berisiko untuk memulai bisnis sendiri. Menurut survei American Express, dari 16% orang yang memulai bisnis langsung setelah lulus, hanya 4% yang berhasil.
Sementara itu para pengusaha yang berhasil membangun bisnis diantaranya seperti Jimmy Wales pendiri Wikipedia, Michael Arrington pendiri TechCrunch serta Reed Hastings pembangun Netflix. Seluruh pengusaha sukses tersebut berusia antara 35 hingga 42 tahun.
Namun diungkap Wales, para pemuda tak perlu takut unuk memulai sukses di usia yang lebih muda. Menurutnya, umur hanyalah angka tanpa makna dan tidak menentukan apapun dalam bisnis.
sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/739376/berapa-usia-ideal-untuk-mulai-berbisnis
Dalam buku berjudul `Breakthrough Entrepreneurship: The Proven Framework for Building Brilliant New Ventures` karya pengusaha besar Jon Burgstone dan Bill Murphy, orang-orang yang berusia 30 tahun ke atas memiliki lebih banyak pengalaman dan matang dalam berbisnis.
Sementara melansir lamar Inc.com, Kamis (6/11/2013), banyak pengusaha sukses memulai bisnisnya saat berusia di atas 25 tahun. Terbukti, jumlah pengusaha sukses yang membangun bisnis di bidang teknologi rata-rata berusia 35-39 tahun. Jumlahnya dua kali lipat dari orang yang berusia di atas 50 tahun dan lebih muda dari 25 tahun.
Artinya, para pengusaha berusia 24-35 tahun masih dianggap berisiko untuk memulai bisnis sendiri. Menurut survei American Express, dari 16% orang yang memulai bisnis langsung setelah lulus, hanya 4% yang berhasil.
Sementara itu para pengusaha yang berhasil membangun bisnis diantaranya seperti Jimmy Wales pendiri Wikipedia, Michael Arrington pendiri TechCrunch serta Reed Hastings pembangun Netflix. Seluruh pengusaha sukses tersebut berusia antara 35 hingga 42 tahun.
Namun diungkap Wales, para pemuda tak perlu takut unuk memulai sukses di usia yang lebih muda. Menurutnya, umur hanyalah angka tanpa makna dan tidak menentukan apapun dalam bisnis.
sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/739376/berapa-usia-ideal-untuk-mulai-berbisnis
Jumat, 08 November 2013
Bisnis Pengusaha Tua Jauh Lebih Inovatif Dari yang Muda
Liputan6.com, New York : Pengusaha muda seringkali
dinilai lebih inovatif dalam berbisnis dibandingkan orang-orang berusia
senja. Sebut saja Mark Zuckerberg yang berhasil mendirikan Facebook di
usia 19 tahun atau Jack Dorsey yang sukses meluncurkan Twitter saat
berusia 30 tahun.
Faktanya, para pengusaha tua ternyata jauh lebih inovatif saat membuka usaha dibandingkan mereka yang masih muda.
Ini berdasarkan hasil penelitian Vivek Wadhawa dari Duke University, yang menyebutkan para pendiri perusahaan berusia di atas 40 tahun tercatat lebih sukses dibandingkan para pesaing mudanya. Keberhasilan tersebut dipicu lebih tingginya tingkat inovasi para pengusaha usia senja.
Dalam penelitian tersebut, Wadhawa melibatkan 549 orang yang sukses membangun sejumlah perusahaan teknologi kelas internasional.
Dalam penelitiannya, dia mengungkapkan, pengusaha berusia tua mencapai tingkat kesuksesan yang lebih tinggi daripada para pebisnis muda.
Tentu saja para pengusaha berusia di atas 40 tahun ini bisa jauh lebih berhasil karena mengantongi bekal pengalaman yang cukup, jaringan bisnis yang kuat, serta pengetahuan dan pemahaman usaha yang mendalam.
Semua bekal tersebut dapat mendorong dirinya untuk berpikir lebih inovatif dalam berbisnis. Selain itu, para pebisnis yang mendirikan perusahaan di usia senja terbukti telah memiliki pasar dan konsumen sendiri. Dua faktor tersebut bisa menjadi fondasi utama bagi perusahaan yang didirikannya.
Menurut Wadhwak, orang-orang yang pernah berkecimpung di dunia bisnis sangat paham menentukan cara dan strategi untuk memutar maju roda perusahaannya. Lihat saja, prediksi finansial yang dilontarkan para pengusaha tua sangat jarang meleset.
Lebih rinci dia mengungkapkan, jumlah pendiri perusahaan sukses berusia 55 tahun masih dua kali lipat lebih banyak dibandingkan para pebisnis muda berusia 40 tahun ke bawah. Meski demikian jumlah pengusaha di dunia telah banyak meningkat sejak 1996.
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/736282/pengusaha-tua-jauh-lebih-inovatif-dari-yang-muda
Faktanya, para pengusaha tua ternyata jauh lebih inovatif saat membuka usaha dibandingkan mereka yang masih muda.
Ini berdasarkan hasil penelitian Vivek Wadhawa dari Duke University, yang menyebutkan para pendiri perusahaan berusia di atas 40 tahun tercatat lebih sukses dibandingkan para pesaing mudanya. Keberhasilan tersebut dipicu lebih tingginya tingkat inovasi para pengusaha usia senja.
Dalam penelitian tersebut, Wadhawa melibatkan 549 orang yang sukses membangun sejumlah perusahaan teknologi kelas internasional.
Dalam penelitiannya, dia mengungkapkan, pengusaha berusia tua mencapai tingkat kesuksesan yang lebih tinggi daripada para pebisnis muda.
Tentu saja para pengusaha berusia di atas 40 tahun ini bisa jauh lebih berhasil karena mengantongi bekal pengalaman yang cukup, jaringan bisnis yang kuat, serta pengetahuan dan pemahaman usaha yang mendalam.
Semua bekal tersebut dapat mendorong dirinya untuk berpikir lebih inovatif dalam berbisnis. Selain itu, para pebisnis yang mendirikan perusahaan di usia senja terbukti telah memiliki pasar dan konsumen sendiri. Dua faktor tersebut bisa menjadi fondasi utama bagi perusahaan yang didirikannya.
Menurut Wadhwak, orang-orang yang pernah berkecimpung di dunia bisnis sangat paham menentukan cara dan strategi untuk memutar maju roda perusahaannya. Lihat saja, prediksi finansial yang dilontarkan para pengusaha tua sangat jarang meleset.
Lebih rinci dia mengungkapkan, jumlah pendiri perusahaan sukses berusia 55 tahun masih dua kali lipat lebih banyak dibandingkan para pebisnis muda berusia 40 tahun ke bawah. Meski demikian jumlah pengusaha di dunia telah banyak meningkat sejak 1996.
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/736282/pengusaha-tua-jauh-lebih-inovatif-dari-yang-muda
Kamis, 07 November 2013
SEMINAR BISNIS Lawan Kapitalisme Global, UMKM Dibekali Teknik Branding Produk
Solopos.com, SOLO—Seratusan pelaku usaha mikro,
kecil dan menengah (UMKM) di Kota Solo mendapat bekal tentang strategi
menciptakan branding produk sebagai senjata untuk melawan kapitalisme
global di Hotel Grand Orchid Solo, Sabtu (19/10).
Acara yang dikemas dalam bentuk seminar itu menjadi gerakan awal kebangkitan UMKM sebagai kekuatan ekonomi nasional, mengingat dari 55 juta UMKM di negeri ini baru 1% di antaranya yang sadar tentang branding produk.
Seminar yang digelar Terasolo bersama Komunitas Memberi itu menghadirkan sosok pengusaha kreatif asal Jogja dan Solo serta seorang konsultasn bisnis nasional.
Para pembicara itu terdiri atas Wahyu Liz, pencipta produk kaus plesetan asal Yogyakarta. Hadir pula Made Ayu Aryani, pemilik Reina Herbal Drink Café di Jl Ronggowarsito No 10 Kampung Baru, Solo. Pakar marketing yang menulis 50 unit buku, Yuswohady, pun turut melengkapi sesi terakhir dalam seminar bertema Marketing & Branding, Membangun UMKM Indonesia yang Berdaya Saing Global.
“Kedaulatan ekonomi Indonesia saat ini seperti di ujung tanduk. Semua kebutuhan penduduk Indonesia sehari-hari didominasi oleh produk-produk perusahaan besar asing yang notabene merupakan kapitalisme global. Bisa dilihat, mulai dari sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi dan seterusnya merupakan produk perusahaan asing semua. Hal itu merupakan penjajahan bentuk baru. Jika hal ini dibiarkan maka Indonesia bisa bangkrut dan rupiah pasti melemah sampai Rp30.000/dolar,” ujar Yuswohady saat dijumpai wartawan di sela-sela seminar di Lavender Room, Sabtu siang.
Yuswohady menyebut jumlah UMKM di Indonesia mencapai 55 juta, sedangkan jumlah perusahaan asing dengan branding besar hanya sekitar 5.000 perusahaan. Angka 55 juta UMKM itu, kata Yuswo, menjadi kekuatan ekonomi nasional, karena UMKM itu bisa menyerap tenaga kerja sampai 80%. Namun, kesadaran mereka tentang membangun branding, menurut dia, hanya sekitar 1%. Yuswo menegaskan membangun branding itu memang membutuhkan kesadaran dan harus dilakukan secara bertahap.
“Untuk menumbuhkan kesadaran itu, salah satu upayanya ya melalui gerakan seperti ini. Mereka diberi pengetahuan tentang strategi bisnis, membangun sistem dan teknologi,” imbuhnya.
Terasolo menyebut jumlah UMKM di Solo mencapai 11.000 usaha. Hanya sebagian kecil pelaku UMKM yang hadir dalam seminar itu. Wahyu Liz memberi inspirasi bagi mereka tentang bagaimana berfikir out of the box atau berfikir kreatif. Ia bisa memanfaatkan peluang dengan menciptakan kaus plesetan.
Bekas karyawan kaus Dagadu itu tak sekadar membikin kaus dengan coretan gambar lucu, tetapi karya Wahyu itu memiliki nilai tambah yang tidak lain bisa membuat orang gembira.
“Saya buat produk itu yang penting saya puas. Saya tak pernah berfikir kaus ini laku atau tidak. Ternyata kaus bikinan saya laku dan saya bisa membuka cabang di berbagai daerah dengan ciri khas daerah masing-masing,” tambahnya.
Berbeda dengan Ayu, sapaan Made Ayu Aryani. Ayu justru menciptakan brand baru dari produk jamu. Ia berusaha menghilangkan mindset masyarakat tentang jamu. Ayu mengemas depot jamu dengan nuansa berbeda, yakni berbentuk kafe di jantung Kota Bengawan. Minuman tradisional itu bukan lagi sebagai obat dengan khasiat masing-masing, tetapi jamu dikemas menjadi lifestyle anak muda masa kini.
“Produk saya tidak hanya dikenal orang Solo, tapi dikenal banyak turis mancanegara. Saya tidak perlu ekspor, tapi cukup menggandeng para pelaku jasa traveling untuk mengenalkan produk itu,” tambahnya.
Sumber : http://www.solopos.com/2013/10/19/seminar-bisnis-lawan-kapitalisme-global-umkm-dibekali-teknik-branding-produk-457589
Acara yang dikemas dalam bentuk seminar itu menjadi gerakan awal kebangkitan UMKM sebagai kekuatan ekonomi nasional, mengingat dari 55 juta UMKM di negeri ini baru 1% di antaranya yang sadar tentang branding produk.
Seminar yang digelar Terasolo bersama Komunitas Memberi itu menghadirkan sosok pengusaha kreatif asal Jogja dan Solo serta seorang konsultasn bisnis nasional.
Para pembicara itu terdiri atas Wahyu Liz, pencipta produk kaus plesetan asal Yogyakarta. Hadir pula Made Ayu Aryani, pemilik Reina Herbal Drink Café di Jl Ronggowarsito No 10 Kampung Baru, Solo. Pakar marketing yang menulis 50 unit buku, Yuswohady, pun turut melengkapi sesi terakhir dalam seminar bertema Marketing & Branding, Membangun UMKM Indonesia yang Berdaya Saing Global.
“Kedaulatan ekonomi Indonesia saat ini seperti di ujung tanduk. Semua kebutuhan penduduk Indonesia sehari-hari didominasi oleh produk-produk perusahaan besar asing yang notabene merupakan kapitalisme global. Bisa dilihat, mulai dari sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi dan seterusnya merupakan produk perusahaan asing semua. Hal itu merupakan penjajahan bentuk baru. Jika hal ini dibiarkan maka Indonesia bisa bangkrut dan rupiah pasti melemah sampai Rp30.000/dolar,” ujar Yuswohady saat dijumpai wartawan di sela-sela seminar di Lavender Room, Sabtu siang.
Yuswohady menyebut jumlah UMKM di Indonesia mencapai 55 juta, sedangkan jumlah perusahaan asing dengan branding besar hanya sekitar 5.000 perusahaan. Angka 55 juta UMKM itu, kata Yuswo, menjadi kekuatan ekonomi nasional, karena UMKM itu bisa menyerap tenaga kerja sampai 80%. Namun, kesadaran mereka tentang membangun branding, menurut dia, hanya sekitar 1%. Yuswo menegaskan membangun branding itu memang membutuhkan kesadaran dan harus dilakukan secara bertahap.
“Untuk menumbuhkan kesadaran itu, salah satu upayanya ya melalui gerakan seperti ini. Mereka diberi pengetahuan tentang strategi bisnis, membangun sistem dan teknologi,” imbuhnya.
Terasolo menyebut jumlah UMKM di Solo mencapai 11.000 usaha. Hanya sebagian kecil pelaku UMKM yang hadir dalam seminar itu. Wahyu Liz memberi inspirasi bagi mereka tentang bagaimana berfikir out of the box atau berfikir kreatif. Ia bisa memanfaatkan peluang dengan menciptakan kaus plesetan.
Bekas karyawan kaus Dagadu itu tak sekadar membikin kaus dengan coretan gambar lucu, tetapi karya Wahyu itu memiliki nilai tambah yang tidak lain bisa membuat orang gembira.
“Saya buat produk itu yang penting saya puas. Saya tak pernah berfikir kaus ini laku atau tidak. Ternyata kaus bikinan saya laku dan saya bisa membuka cabang di berbagai daerah dengan ciri khas daerah masing-masing,” tambahnya.
Berbeda dengan Ayu, sapaan Made Ayu Aryani. Ayu justru menciptakan brand baru dari produk jamu. Ia berusaha menghilangkan mindset masyarakat tentang jamu. Ayu mengemas depot jamu dengan nuansa berbeda, yakni berbentuk kafe di jantung Kota Bengawan. Minuman tradisional itu bukan lagi sebagai obat dengan khasiat masing-masing, tetapi jamu dikemas menjadi lifestyle anak muda masa kini.
“Produk saya tidak hanya dikenal orang Solo, tapi dikenal banyak turis mancanegara. Saya tidak perlu ekspor, tapi cukup menggandeng para pelaku jasa traveling untuk mengenalkan produk itu,” tambahnya.
Sumber : http://www.solopos.com/2013/10/19/seminar-bisnis-lawan-kapitalisme-global-umkm-dibekali-teknik-branding-produk-457589
Rabu, 06 November 2013
Kiat Atur Keuangan untuk Bisnis
REPUBLIKA.CO.ID, Untuk mengatur keuangan dari bisnis buku, baik
secara online ataupun offline ternyata butuh strategi tersendiri. Apa
sajakah? Berikut di antaranya:
1. Hitung apa saja biaya-biaya yang dikeluarkan selama berbisnis buku online atau offline
Misalnya biaya iklan, biaya operasional bulanan atau harian, pulsa internet, pulsa HP, transportasi/bensin, sewa website dll.
Dengan kita tahu, apa saja yang menjadi komponen biaya-biaya tersebut, memungkinkan kita untuk benar-benar memaksimalkan supporting tools yang ada. Misalnya jika Anda menggunakan BB ( Black Berry), alangkah baiknya, BB tersebut benar-benar diperuntukkan untuk usaha, sehingga biaya bulanan dari penggunaan BB tersebut, sudah tercover dari keuntungan menjual buku.
2. Pisahkan antara uang pokok produk dan laba
Jika buku yang Anda jual adalah produk orang lain, maka harus dipisahkan antara uang pokok untuk membeli buku tersebut dan uang laba atau keuntungannya. Disiplin seperti ini bisa membuat diri Anda mengetahui, apakah hari ini Anda lagi mengalami kerugian atau keuntungan.
3. Laba harus lebih besar dari biaya-biaya yang dikeluarkan
Yang membuat banyaknya usaha kecil menengah kolaps di tengah jalan adalah lebih besar pasak dari pada tiang. Sehinga secara jangka panjang, selain harus memiliki dana cadangan dan nafas yang panjang dalam bisnis, juga strategi meningkatkan keuntungan dan menekan biaya-biaya seminimal mungkin. Dengan mempunyai keuntungan lebih besar dari biaya-biaya, memungkinkan Anda untuk bisa berinvestasi, menambah modal kerja serta melakukan ekspansi ke usaha-usaha prospektif dan kreatif lainnya.
4. Piutang harus ditagih (cash and carry alias tunai)
Harus dipisahkan, mana yang saudara, mana ketika berbisnis. Ketika berbisnis, semakin sedikit piutang kita kepada pihak lain, maka arus kas kita menjadi lancar. Dengan penjualan buku lewat online, maka biasanya pembeli buku Anda sudah mentransfer uangnya, baru Anda kirim barangnya. Begitupun ketika Anda menjualnya secara langsung, ada uang ada barang. Semakin disiplin Anda dalam menjual secara tunai ini, maka perputaran usaha Anda akan semakin meningkat.
5. Lakukan pemeriksaan stok barang, tiap awal dan akhir bulan.
Jika buku motivasi dan pengembangan diri Anda, cukup banyak variasinya, maka perlu ada ‘gudang’ khusus untuk meletakkan barang-barang atau buku-buku Anda untuk di jual. Jika Anda arus kasnya bersifat harian, maka perlu secara rutin dan memeriksa persediaan stok barang. Intinya, Anda tahu apa yang Anda jual dan Anda paham manajemen pengelolaan stok barang.
6. Pelanggan Anda adalah sumber kelangsungan hidup bisnis Anda
Era online hari ini memungkinkan kita untuk membuat database, dari orang atau pelanggan yang pernah membeli buku dari Anda. Otomatis ketika Anda punya daftar pelanggan tersebut, selain lebih banyak menjual buku-buku Anda, Anda juga bisa tetap mengedukasi mereka untuk dijadikan mitra dalam sistem distribusi buku Anda.
7. Mitra kerja Anda adalah orang yang membantu suksesnya bisnis Anda, maka perhatikan kehidupan mereka.
Ketika nanti, usaha Anda berkembang menjadi besar, selalu ingat untuk tetap memperhatikan kehidupan dan kesejahteraan mitra kerja Anda. Sukses di awali dari menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain.
Itu beberapa tips bagi Anda yang ingin membesarkan usaha jual beli buku. Yang tidak kalah pentingya adalah Anda harus mencari seorang mentor yang mau membimbing Anda, baik untuk peningkatan pribadi Anda, juga karir sebagai pebisnis buku online dan offline. Semoga Anda sukses dan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
SUMBER : http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/motivasi-keuangan/13/11/06/mvu0zw-kiat-atur-keuangan-untuk-bisnis
1. Hitung apa saja biaya-biaya yang dikeluarkan selama berbisnis buku online atau offline
Misalnya biaya iklan, biaya operasional bulanan atau harian, pulsa internet, pulsa HP, transportasi/bensin, sewa website dll.
Dengan kita tahu, apa saja yang menjadi komponen biaya-biaya tersebut, memungkinkan kita untuk benar-benar memaksimalkan supporting tools yang ada. Misalnya jika Anda menggunakan BB ( Black Berry), alangkah baiknya, BB tersebut benar-benar diperuntukkan untuk usaha, sehingga biaya bulanan dari penggunaan BB tersebut, sudah tercover dari keuntungan menjual buku.
2. Pisahkan antara uang pokok produk dan laba
Jika buku yang Anda jual adalah produk orang lain, maka harus dipisahkan antara uang pokok untuk membeli buku tersebut dan uang laba atau keuntungannya. Disiplin seperti ini bisa membuat diri Anda mengetahui, apakah hari ini Anda lagi mengalami kerugian atau keuntungan.
3. Laba harus lebih besar dari biaya-biaya yang dikeluarkan
Yang membuat banyaknya usaha kecil menengah kolaps di tengah jalan adalah lebih besar pasak dari pada tiang. Sehinga secara jangka panjang, selain harus memiliki dana cadangan dan nafas yang panjang dalam bisnis, juga strategi meningkatkan keuntungan dan menekan biaya-biaya seminimal mungkin. Dengan mempunyai keuntungan lebih besar dari biaya-biaya, memungkinkan Anda untuk bisa berinvestasi, menambah modal kerja serta melakukan ekspansi ke usaha-usaha prospektif dan kreatif lainnya.
4. Piutang harus ditagih (cash and carry alias tunai)
Harus dipisahkan, mana yang saudara, mana ketika berbisnis. Ketika berbisnis, semakin sedikit piutang kita kepada pihak lain, maka arus kas kita menjadi lancar. Dengan penjualan buku lewat online, maka biasanya pembeli buku Anda sudah mentransfer uangnya, baru Anda kirim barangnya. Begitupun ketika Anda menjualnya secara langsung, ada uang ada barang. Semakin disiplin Anda dalam menjual secara tunai ini, maka perputaran usaha Anda akan semakin meningkat.
5. Lakukan pemeriksaan stok barang, tiap awal dan akhir bulan.
Jika buku motivasi dan pengembangan diri Anda, cukup banyak variasinya, maka perlu ada ‘gudang’ khusus untuk meletakkan barang-barang atau buku-buku Anda untuk di jual. Jika Anda arus kasnya bersifat harian, maka perlu secara rutin dan memeriksa persediaan stok barang. Intinya, Anda tahu apa yang Anda jual dan Anda paham manajemen pengelolaan stok barang.
6. Pelanggan Anda adalah sumber kelangsungan hidup bisnis Anda
Era online hari ini memungkinkan kita untuk membuat database, dari orang atau pelanggan yang pernah membeli buku dari Anda. Otomatis ketika Anda punya daftar pelanggan tersebut, selain lebih banyak menjual buku-buku Anda, Anda juga bisa tetap mengedukasi mereka untuk dijadikan mitra dalam sistem distribusi buku Anda.
7. Mitra kerja Anda adalah orang yang membantu suksesnya bisnis Anda, maka perhatikan kehidupan mereka.
Ketika nanti, usaha Anda berkembang menjadi besar, selalu ingat untuk tetap memperhatikan kehidupan dan kesejahteraan mitra kerja Anda. Sukses di awali dari menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain.
Itu beberapa tips bagi Anda yang ingin membesarkan usaha jual beli buku. Yang tidak kalah pentingya adalah Anda harus mencari seorang mentor yang mau membimbing Anda, baik untuk peningkatan pribadi Anda, juga karir sebagai pebisnis buku online dan offline. Semoga Anda sukses dan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
SUMBER : http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/motivasi-keuangan/13/11/06/mvu0zw-kiat-atur-keuangan-untuk-bisnis
Selasa, 05 November 2013
Apa Strategi XL Setelah Mengakuisisi Axis?
Langkah mengakuisisi operator Axis oleh XL sudah semakin dekat. XL
sebagai pembeli terus mempersiapkan diri untuk menyambut waktu
bergabungnya Axis ke dalam perusahaannya.
Menurut Direktur Marketing XL, Nicanor V. Santiago III, XL sedang memperhitungkan segala kemungkinan dan strategi yang bisa dilakukan setelah konsolidasi antara kedua perusahaan terjadi. Ia mengaku perusahaannya telah memiliki tim untuk merancang skenario yang mungkin dapat dilakukan.
"Sudah ada beberapa skenario untuk menjalankan bisnis XL-Axis setelah akuisisi. Tapi masih belum tahu mana yang akan diambil nantinya," ungkap pria yang akrab disapa Nicki itu di Exodus Resto, Jakarta.
Nicki mengungkap Axis memiliki kekuatan yang terbilang baik di kalangan anak muda dan pengguna internet. "Kekuatan Axis di pasar itu pas sama visi XL baik di segmen pasar atau layanannya," imbuhnya.
Selain pasar dan pelanggan, XL berharap mendapat aset berupa spektrum yang dimiliki Axis. XL memang disebutkan telah memasuki zona merah yang menunjukkan bahwa XL harus menambah spektrum agar bisa melayani kebutuhan komunikasi pelanggannya dengan baik.
Proses akuisisi Axis telah dilakukan XL sejak beberapa bulan setelah kedua belah pihak menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (CSPA). Pemerintah telah membangun tim khusus untuk menilai kondisi perusahaan setelah dan sebelum akuisisi terjadi.
SUMBER : tekno.liputan6.com/read/730076/apa-strategi-xl-setelah-mengakuisisi-axis
Menurut Direktur Marketing XL, Nicanor V. Santiago III, XL sedang memperhitungkan segala kemungkinan dan strategi yang bisa dilakukan setelah konsolidasi antara kedua perusahaan terjadi. Ia mengaku perusahaannya telah memiliki tim untuk merancang skenario yang mungkin dapat dilakukan.
"Sudah ada beberapa skenario untuk menjalankan bisnis XL-Axis setelah akuisisi. Tapi masih belum tahu mana yang akan diambil nantinya," ungkap pria yang akrab disapa Nicki itu di Exodus Resto, Jakarta.
Nicki mengungkap Axis memiliki kekuatan yang terbilang baik di kalangan anak muda dan pengguna internet. "Kekuatan Axis di pasar itu pas sama visi XL baik di segmen pasar atau layanannya," imbuhnya.
Selain pasar dan pelanggan, XL berharap mendapat aset berupa spektrum yang dimiliki Axis. XL memang disebutkan telah memasuki zona merah yang menunjukkan bahwa XL harus menambah spektrum agar bisa melayani kebutuhan komunikasi pelanggannya dengan baik.
Proses akuisisi Axis telah dilakukan XL sejak beberapa bulan setelah kedua belah pihak menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (CSPA). Pemerintah telah membangun tim khusus untuk menilai kondisi perusahaan setelah dan sebelum akuisisi terjadi.
SUMBER : tekno.liputan6.com/read/730076/apa-strategi-xl-setelah-mengakuisisi-axis
Langganan:
Postingan (Atom)